oleh

Nama dan Citra Presiden Rusak Dengan Isu Yang Mengorbankan Rakyat Indonesia

Editorial: 

Freni Lutruntuhluy, S.Pd

Nama baik dan citra Presiden Jokowi akhirnya menjadi buruk di penghujung masa kepemimpinannya. Bagaimana tidak, dalam kepemimpinan Jokowi, banyak sekali para pejabat negara khususnya dalam lingkaran kementerian dan Lembaga yang terseret masalah hukum dan ditangani Lembaga penegak hukum kita. Tak bisa dihitung satu persatu, jika dikaitkan secara nasional dalam penegakan hukum termasuk pejabat daerah.

Jokowi dimata rakyat jauh sebelumnya dinilai begitu brilian dalam menata pemerintahan yang bersih dengan system pelayanan terbuka untuk rakyat, menjadi rusak dipenghujung kepemimpinannya. Ini pertanda bahwa kepemimpinan selanjutnya membutuhkan orang yang berani, tidak saja dalam konsep membangun bangsa ini, melainkan berani terjun dalam ikut memberantas mafia dan praktek-praktek yang merugikan rakyat diseluruh lapisan system pemerintahan kita.

Beberapa waktu yang lalu bangsa kita dikagetkan dengan isu kelangkaan miyak goreng termasuk harganya yang begitu tinggi. Situasi itu kemudian membuat masyarakat begitu tertekan dan menderita akibat praktek yang selama ini tersembunyi rapih dibalik system birokrasi yang selama ini dianggap bersih. Inilah sederetan kegagalan pemerintah di penghujung periode Jokowi dalam menata system pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktek kotor. Sayangnya, mengapa hal itu tidak dilakukan diawal kepemimpinan sebelum situasi ekonomi kita yang belakangan ini makin sulit. Saatnya bangsa ini menentukan sikap politiknya yang baik untuk menentukan kepemimpinan yang baru pada pemilu 2024.

Kabar terbarunya, semua pejabat negara dan rakyat Indonesia tiba-tiba dikagetkan Ketika Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemberian fasilitas ekspor minyak sawit mentah/crude palm oil (CPO). Hal itu kemudian memantik perhatian banyak kalangan bahkan tidak sedikit yang ikut mengkritik pemerintahan Jokowi. Problem ini kemudian menjadi pertanyaan apakah dengan ditahannya tersangka, problem harga bisa membaik?

Selain Wisnu, sejumlah bos sawit juga ditetapkan sebagai tersangka, yakni Senior Manager Corporate Affairs Permata Hijau Group Stanley MA Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia Parulian Tumanggor General Manager bagian General Affair PT Musim Mas Togar Sitanggang.

Tidak saja soal minyak goreng, kasus big data juga kemudian menjadi bola panas para elit yang kemudian situasi itu merusak citra pemerintahan Jokowi. Presiden Jokowi yang secara tegas telah menyatakan tidak menginginkan lanjut pada tiga periode, justru tergilas dalam banyak kepentingan yang menumpang dalam percakapan Luhut Binsar Panjaitan di channel Youtube Deddy Corbuzier. Perseteruan itupun makin tegang dan memanas serta memancing reaksi public dan aktivis mahasiswa yang kemudian berujung pada aksi demonstrasi. Mengerikan sekali republic kita di tahun 2022 ini.

Aksi saling balas pantun antara pro dan kontra terhadap pemerintahan ini kian meluas kemana-mana. Banyak juga yang menilai ini adalah umpan terbaik dalam mengejar popularitas menyongsong pesta demorkasi nanti.

Dengan kasus-kasus yang dinilai sedikit aneh belakangan ini, justru akan semakin meyakinkan public untuk bersikap lebih tegas. Kritikan pedas yang terus datang dari mayoritas rakyat yang menderita dibalik krisis minyak goreng, big data, isu tiga periode Jokowi dan harga BBM naik, ini akan menjadi sensasi terbaik dalam rangkaian proses percaturan perpolitikan bangsa ini untuk bangkit dan melakukan perubahan yang baik dengan mencari sosok pemimpin yang baru.

Salam Perubahan

 

Komentar

Tinggalkan Balasan