oleh

Maluku Baileo Exhibition di Makasar Dinilai Tidak Efektif

JAKARTA – Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia (Padma Indonesia) mengkritik kegiatan Maluku Baileo Exhibition yang dilakukan Pemerintah Provinsi Maluku di Kota Makasar yang terkesan hanya menghabiskan uang rakyat dan tidak berdampak langsung terhadap UMKM di Maluku.

“Kegiatan Maluku Baileo Exhibition di Kota Makassar pada 4-6 Februari 2022 ini sama sekali tidak berdampak secara langsung terhadap UMKM di Maluku. Ini justru menghabiskan dana yang besar untuk akomodasi pejabat daerah dan menguntungkan hotel dan restoran mewah di Makasar”, ungkap Freni Lutruntuhluy, S.Pd selaku Dewan Pengawas Padma Indonesia di Jakarta pada jumat (04/02).

Kegiatan Maluku Baileo Exhibition yang dilakukan Pemerintah Provinsi Maluku di Kota Makasar. (foto-ist)

Freni Lutruntuhluy mengatakan, di era milenial ini mestinya pemerintah mengurangi kegiatan-kegiatan promosi yang sifatnya boros dan harus beralih dengan menggunakan pendekatan digital marketing sehingga efektif dan efisien. Selain itu agar dana itu lebih diutamakan bagi UMKM yang membutuhkan.

“Kalau alasan pemda adalah soal Pasar besar itu ada di Makasar, maka tidak mesti dengan cara promosi seperti saat ini. Kan bisa buat di Ambon saja, tetapi kita gunakan pendekatan digital marketingnya dengan titik promosi pada wilayah yang berpotensi seperti Makasar, Jawa dan lainnya. Itu cara teknologi menjalankan promosinya. Ini efektif dan efisien. Semua orang sudah gunakan hal itu. Maksud saya kalau di Ambon, maka UMKM kita merasakan manfaat”, ungkapnya.

Dewan Pengawas Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia (Padma Indonesia), Freni Lutruntuhluy, S.Pd

Menurutnya, Dekranasda Provinsi Maluku terkesan terlalu “bernafsu” memperkenalkan produk Maluku keluar, tetapi tidak mendeteksi apa sebetulnya yang menjadi persoalan internal UMKM Maluku selama ini baik di Ambon atau Kabupaten/Kota se Provinsi Maluku.

“Mestinya yang paling utama dilakukan adalah memberdayakan UMKM kita di desa-desa se kabupaten/kota di Maluku karena mereka butuh pendampingan dari Pemerintah daerah, sehingga produk UMKM kita bertumbuh. Sedangkan untuk promosinya, Pemda cukup menggunakan Digital Marketing agar bisa lebih hemat biaya dan mengutamakan kebutuhan UMKM kita di desa-desa dengan uang itu”, tegasnya.

Ia juga menjelaskan, apa yang dilakukan dalam Expo Produk UMKM Maluku di Mall Ratu Indah Makassar menunjukan bahwa sebetulnya pemda Maluku juga belum siap dalam persiapan Pemerintahan yang berbasis digital kedepannya. Terlihat jelas dengan tidak memanfaatkan teknologi dalam kepentingan promosi potensi daerah.

Sebagai anak Maluku, ia mengatakan, alasan Makasar sebagai wilayah bisnis Indonesia di bagian tengah antara Indonesia Timur dan barat tidak bisa di persepsikan lagi seperti masa-masa sebelum era teknologi sekarang ini. Teknologi sekarang mempermudah orang untuk melakukan apa saja tanpa sekat yang membatasi kapan dan dimana saja. Sehingga hanya orang yang kurang mengerti dengan teknologi terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan promosi seperti itu. Ini yang dimaksudkan terkesan hamburkan uang rakyat.

“Kami merasa terpanggil untuk menyuarakan hal ini, apalagi kondisi ekonomi rakyat di Maluku pada masa pandemik ini begitu sulit sehingga kita harapkan kegiatan-kegiatan pemerintah bisa berdampak positif dan cepat agar ada pemulihan ekonomi kita”, ujarnya (tim-red)

Komentar

Tinggalkan Balasan