oleh

Ada Apa Kejagung Diminta Copot Kejati NTT?

Jakarta, Info Senator – Lambannya Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur untuk memproses kasus dugaan korupsi di Bank NTT mengindikasikan pihak Kejati di duga kuat berada dalam tekanan pihak-pihak tertentu.

“Lamban dan tidak beraninya Kajati NTT dalam penanganan kasus Tindak Pidana Korupsi di Bank NTT patut diduga kuat Kajati NTT berada dalam tekanan atau ada udang dibalik batu”, ungkap Gabriel Goa, selaku Ketua Kompak Indonesia kepada media ini jumat (04/02).

Menurut Gabriel Goa, tidak hanya kasus Bank NTT tetapi juga kasus Tindak Pidana Korupsi Bawang Merah Malaka yang berkasnya bolak balik dikembalikan ke Polda NTT juga patut diduga kuat untuk mengamankan Auktor Intelektualis Tindak Pidama Korupsi di NTT.

“Belum lagi kasus tangkap tangan Jaksa kunrad uang hasil suap tidak mungkin hanya dinikmati oleh dia sendiri. Dia kena apes dan sial saja”, tambah Gabriel.

Kompak Indonesia menurut Gabriel terpanggil untuk pencegahan Korupsi dan mendukung total penegakan hukum tindak pidana korupsi di NTT agar tidak hanya menajam ke bawah Pelaku-Pelaku kelas teri tetapi juga menajam ke atas kepada pelaku-pelaku kelas kakap (Auktor Intelektualis).

“Kami dari Koalisi Masyarakat Pemberantasan Korupsi Indonesia berkolaborasi bersama Pers dan Penggiat  Anti Korupsi serta Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif yang bersih dan berintegritas untuk, pertama, mendesak KPK RI dan Jaksa Agung untuk melakukan supervisi secara aktif bukan pasif ke Kejati NTT. Kedua, mendukung langkah DPRD NTT yang  getol melakukan pengawasan terhadap kinerja Kejati NTT yang lamban dan takut membongkar kasus-kasus korupsi di NTT karena ada udang dibalik batu. Ketiga, mengajak solidaritas masyarakat Penggiat Anti Korupsi dan Pers di NTT untuk terus kawal dan Aksi di Kejati NTT dan di Jakarta, melakukan pengawalan dan aksi ke Kejaksaan Agung dan KPK RI jika Kepala Kejaksaan NTT tidak mampu bongkar dan proses hukum Pelaku dan Auktor Intelektualis Korupsi Berjamaah di NTT serta mendesak  JAKSA AGUNG COPOT KAJATI NTT. (tim-red)

Komentar

Tinggalkan Balasan