oleh

Tokoh Muda Maluku Ajak Pemuda Jemput Momentum 2024

MALUKU – Tokoh muda asal Maluku, Freni Lutruntuhlui mengajak para pemuda dan milenial agar melek terhadap situasi politik menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Freni menilai, 2024 merupakan tahun politik di mana seluruh agenda dan kepentingan masyarakat dipertaruhkan.

“Bahwa menganggap tahun 2024 hanya sebagai momentum bagi kepentingan segelintir orang memang tidak sepenuhnya keliru, namun memilih jalan apatis terhadap politik jelas bukan sebuah pilihan yang tepat. Sebab, hampir seluruh kebutuhan publik, mulai dari tidur hingga bangun lagi adalah produk (kebijakan) politik,” kata Freni kepada media ini, Sabtu (1/1).

Menurutnya, bagi sebagian kalangan yang merasa pesimis terhadap kontestasi politik (elektoral) baik di pusat maupun di daerah adalah hal yang lumrah. Bahkan, kata dia, sikap semacam itu penting sebagai kritik sekaligus koreksi atas kekuasaan yang menihilkan aspirasi publik.

“Bagi saya itu wajar ya. Dan, pada derajat tertentu, sikap seperti itu perlu hadir di tengah praktik kekuasaan kita yang cenderung menafikan kebutuhan publik,” tegasnya.

Namun, dirinya tidak berharap apatisme politik membuat masyarakat utamanya bagi kaum muda dan milenial di Maluku lebih memilih acuh tak acuh terhadap peranan mereka dalam memengaruhi keputusan politik, salah satunya melalui partisipasi aktif dalam pemilu.

“Untuk itu, saya mengajak seluruh elemen pemuda dan kaum milenial di Provinsi Maluku untuk merespon tahun politik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden di 2024 sebagai momentum penting penentuan keputusan politik,” ujarnya.

Ia bahkan terang-terangan menyebut dinamika politik merupakan sesuatu yang dinamis yang hasil akhirnya (baik atau buruk) bergantung pada siapa yang memiliki peran paling penting di sana.

”Saya yakin dan percaya bahwa di tengah iklim perubahan politik yang dinamis ini akan mampu melahirkan orang-orang muda Maluku yang hebat untuk mengambil bagian dalam kebijakan politik yang sehat dan terbuka bagi daerah,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, ia juga mengaku yakin bahwa kultur politik yang lama akan segera diganti dengan energi politik yang lebih elegan, terbuka dan responsif terhadap perubahan.

“Dan saya optimis bahwa hal itu hanya bisa digerakkan oleh kaum muda yang memiliki pandangan politik pada eranya,” papar wartawan senior itu.

Freni juga menyentil soal dominasi pemain lama dalam panggung politik kaum milenial hari ini. Dikatakan, kaum milenial saat ini punya peluang besar untuk merebut masa depan politik dari tangan generasi tua yang sudah mulai tidak produktif dna minim inovasi.

“Meskipun untuk menggeser posisi politik yang lama itu agak rumit karena dominasi dan ada intervensi kekuasaan, tetapi hal itu tidak mampan  berada pada ruang-ruang dinamika politik kaum milenial, ulasnya.

Tentang Blok Masela

Pasang surut narasi pengembangan proyek Blok Masela membuat isu strategis nasional ini belakangan mulai menjadi perbincangan serius di berbagai lapisan masyarakat.

Meski demikian, sepanjang kenyataan di lapangan, eksploitasi sumber gas raksasa ini sama sekali belum memiliki skema yang lebih nyata tentang nasib masyarakat lingkar proyek.

“Karenanya, saya mengajak seluruh elemen rakyat, para kelompok intelektual, aktivis mahasiswa untuk mendesak pemerintah provinsi Maluku dan pemerintah pusat untuk buka dialog terbuka tentang proyek Migas Masela. Dialog terbuka itu harus dilakukan di wilayah terdampak Migas Masela misalkan MTB (Maluku Tenggara Barat), Aru dan MBD (Maluku Barat Daya),” cetus Pemimpin PT Media Timor Global itu.

Ia lebih lanjut menggeber nurani para politisi muda dan kaum milenial untuk aktif menyuarakan kepentingan masyarakat Maluku terkait Migas Masela.

“Selain itu kita minta pemerintah terbuka kepada publik tentang berapa kerugian uang rakyat yang sudah terpakai habis selama proses persiapan Migas ini sejak kepemimpinan Maluku yang lalu dan saat ini,” tandasnya.

Dikatakan, jika dalam kepentingan Migas Masela ini terlihat lebih banyak rakyat dikorbankan, maka kami desak KPK untuk memeriksa seluruh system penyelenggara pemerintah dari pusat dampai ke daerah, karena bukan tidak mungkin praktik-praktik gelap terjadi yang sifatnya sementara hanya untuk kepentingan kelompok elit dan penguasa.

“Saatnya anak-anak muda Maluku bangkit dan menunjukan jati dirinya sebagai pemegang warisan leluhur kita,” pungkasnya. (Ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan